SURAT UNTUK HUJAN GERIMIS

 



Karya Niken Haidar

 

Mentari sedari tadi pagi engan tersenyum. Kecantikan, sinarnya layu tersaput awan biru. Di sini kudiam menikmati indahnya sepi. Hanya gemericik gerimis yang menemani. Bayang rindu akan belai kasihmu tak kurasa lagi, ragamu bukan milikku kini. Tinggal kelambu biru kenangan terindah yang kau titipkan .

 

Akankah dapat kucari lagi penggantimu? Bila sesak nafas cintamu selalu penuhi rongga jiwa ini. Rasa cinta memang tak semudah lidah mengucapkannya. Rasa kalbu yang membiru membuat ruang terdalam yang sulit terusik masa menderu. Bukan sebuah janji, bukan sebuah prasasti. Lembut tutur, laku kasih tulus darimu. Merenda asa hanya sebuah rencana, restu Sang Pencipta yang utama.

 

Kulihat dalam tatap senja, jalanan yang terasa kelam dalam rinai gemericik hujan. Kubuka lagi torehan tinta hitammu pada sajak garis dan waktu. Seakan menunggu takdir menjemputmu. Meski kutahu derita ragamu, tetapi senyum kedamaian pancaran jiwa terparti di raut nan membiru. Bangun. Bangunkan diri ini. Lewat denting dawai syair yang sering kau dendangkan di tengah gerimis hujan. Seka. Sekalah airmata jiwa. Dalam uliran onix doa cinta pada-Nya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

SENJA MEMBIRU

MANFAAT HIPNOSIS PADA ANAK