Kamis, 22 Oktober 2026

GADIS DI UJUNG SENJA

 


Karya Niken Haidar

Tak ingin kubuka lagi lembar lara yang telah menoreh sembilu dalam jiwa. Bukannya tiada rela. Melepasnya dalam rengkuh kasih yang lain. Karena dinding tebal halangi jalinan cinta kita. Kini sudah lima tahun lamanya kujalani sunyi. Tanpa gelanyut manja darinya. Mencoba melepaskan semua. Menikmati hidup berkelana. Dari satu kota ke ujung kota yang lain. Berbekal kamera teman setia. Mencari fatamorgana.

Di tepi pantai ini di ujung senja, seraut wajah manis menghampiri. Hampiri diri dalam senyum manja yang sudah lama tak kujumpa. Lelaki mana yang tak terpana kepolosan sesaat yang melenakan jiwa. Kami lewati senja dalam suka. Menebar cerita seperti tiada habis ditelan temaram malam.

Janji adalah hutang. Hari ini demi bertemu dengan Siska gadis senja, kularikan deru mobil seperti menggila. Takut penantiannya membuat melarikan diri dari waktu yang merana. Tepat waktu yang kita sepakati. Kutunggu ditepian pantai menatap senja yang semakin merona. Hingga temaram senja tiada kunjung jua Siska datang dari sudut kelokan muara pantau. Desah resah napasku sepertri hantam bumi. Hingga Fajar menjelang tak kurasa sekuntum bunga tersanding dalam diam. Kemanakah Siska gadis senjaku pergi. Dalam kegalauan hati kupacu mobil di keresahan hati. Dari cermin spion yang tiada terhalang, dua sosok asyik mahsuk merenda cinta. Lara yang kuderita semakin mengangga tergores gadis di ujung senja.


GADIS CANTIK DI PUNCAK GUNUNG

 

Karya Niken Haidar


Ilustrasi by google 

 Sejak semalam  istri tercinta mempersiapkan  umbarampenya hikingku bersama teman-teman gang Empugandring. Meski aku yang paling tua dan dituakan jangan salah sangka, justru  yang paling duluan sampai ke puncak gunung.

Biasalah namanya saja hiking , suka ria menghinggapi kita semua. Apalagi para club ABG, sekarang banyak bermunculan jadinya asyik setiap perjalanan. Tak terasa senja mulai merayap selesai sholat Magrib bersama,  kami berpencar mendirikan tenda sekadar  istirahat sejenak biar esok tenaga pulih menempuh perjalanan selanjutnya. Dalam tenda duduk berdua dengan Si Bungsu berbincang merentas waktu tentang masa yang lalu dan yang akan datang hingga dia terlelap disampingku. Sesaat pandanganku bertumpu pada seorang gadis  cantik yang berjalan ke arah tenda kami.

"Om.. Tolong antarkan aku balik ke tenda teman-teman ya.  takut sendirian nih," pintanyanya dengan sangat manja. Kuikuti langkah kakinya, melewati jalan setapak yang lumayan agak jauh. Sampai di tendanya ada beberapa gadis-gadis yang semuanya cantik - cantik berceloteh manja. Hmmm.. untuk kali ini aku menurut mereka makan dan minum bekal yang mereka bawa. Kenyang membuat berat mata melihat. Kantuk menyergap kepala,  apalagi pijat lembut mereka di pundak melenakan rasa. Aku sudah tak ingat lagi. Saat kubuka mata geriap mentari menyinari mukaku yang benggong, tak bisa turun dari rindangnya puncak pohon tua akasia.

Rabu, 21 Oktober 2026

MAWAR BIRU

 Dening Niken Haidar

 

“Tak sawang mawar biru peparing saka sliramu

Isih seger, isih wangi ngebaki centhong iki

Mawar biru kang karangkai endahing sukmamu

Tak dekep ana telenging atiku”

Bait ukara anggonku ngurit karonce kanggo sliramu kang Paiman . Tali asmara iki kasambung kanthi sesideman. Merga beda kasta trahe kasat mata manungsa. Tresnaku amung bisa ing ati.

 

Kurang luwih setengah windu  digantung tali tresna. Ora bisa nyambung tali sih karo liyan. Tansyah kebayang tresna gatine. Kang Paiman lunga luru ilmu menyang manca. Iki dina  kapangku kaya ora bisa ketahan. Apa maneh entuk pawarta menawa ijin sinauku ana negara kang pada karo Kang Paiman disetujoni. Rasa bungah muga bisa nglukis asmara bareng.

 

Tiket pesawat kecekel tangan. Eba endahe iku bayanganku ana pikir. Mesam-mesem dewe lungguh nunggu ana broading lounge. Sorote sunare srengenge  agawe nyawang kang pada pating sliwer liwat katon peteng. Kledang-kledang wewayangan kang banget tak kenal solah bawane. Koper diseret langkah dawa nyantai kang ngawe kapang ati iki. Rasa ati ora karuan. Detake jantung kaya playune sepur. Ora krasa sikilku ngadeg. Pitung jangkah maneh rasane kaya adoh banget. “Kang Paiman!” saka mburiku ana kenya mlayu ngrangkul Kang Paiman. Sakkala mawar biru ana atiku layu. Aku mung isa meneng ora krasa eluh uwis tumetes kaya udan deres banget.

Senin, 19 Oktober 2026

SURAT UNTUK HUJAN GERIMIS

 



Karya Niken Haidar

 

Mentari sedari tadi pagi engan tersenyum. Kecantikan, sinarnya layu tersaput awan biru. Di sini kudiam menikmati indahnya sepi. Hanya gemericik gerimis yang menemani. Bayang rindu akan belai kasihmu tak kurasa lagi, ragamu bukan milikku kini. Tinggal kelambu biru kenangan terindah yang kau titipkan .

 

Akankah dapat kucari lagi penggantimu? Bila sesak nafas cintamu selalu penuhi rongga jiwa ini. Rasa cinta memang tak semudah lidah mengucapkannya. Rasa kalbu yang membiru membuat ruang terdalam yang sulit terusik masa menderu. Bukan sebuah janji, bukan sebuah prasasti. Lembut tutur, laku kasih tulus darimu. Merenda asa hanya sebuah rencana, restu Sang Pencipta yang utama.

 

Kulihat dalam tatap senja, jalanan yang terasa kelam dalam rinai gemericik hujan. Kubuka lagi torehan tinta hitammu pada sajak garis dan waktu. Seakan menunggu takdir menjemputmu. Meski kutahu derita ragamu, tetapi senyum kedamaian pancaran jiwa terparti di raut nan membiru. Bangun. Bangunkan diri ini. Lewat denting dawai syair yang sering kau dendangkan di tengah gerimis hujan. Seka. Sekalah airmata jiwa. Dalam uliran onix doa cinta pada-Nya.

Rabu, 01 April 2026

Nonok VS Nonik

 Dening Niken Haidar

    Hawane adem panas. Wulan syawal wis mlaku separo, ning hawane ijik kaya riyaya wiwitan. Dalan isih rame karo wong kang sepedaan silahturahmi, apa maneh abg saiki sing penting hereg'e dhisik malah nek bisa sing adoh sisan. Dar dore merjon kadangkala isih keprunggu, kayak arep njebolke kuping.
    Iki dina isih isuk tanggaku kost suarane wis keprunggu ngalahke kandele tembok. Yo wes lha tak tampa wae. Toh suarane isa gawe nglipur ati masiya ora jelas kadang. Jelas diluk engkas lanjut bakal keprunggu renggg mercyne (sepeda motor modif) budal.
    Embuh apa mergawene ora ngerti. Sing tak weruhi yen dandan joosss tenan dempule gawe nutupi gulu menjing. Rok mekrok dhuwur e dengkul, topi nonik-nonik, bengesan uabang, alis tebel jian asoy pokoke. Sakjane ya pingin bade ning wedi dosa merga ora eruh tenan kahanane. Rasa penasaranku wus kadung ana ubun-ubun. Jurus detektif tak gawe. Saja kadohan tak tutke. Nonok jenenge tanggaku tak delok menggok gang-gang cilik ngamen goyang gebor. Terakhir mlebu ana plajaran omah gede lawas. Ora suwe akeh bocah-bocah cilik lanang wadon pada metu salaman karo ngemut permen suduk sing di dumi Nonok. "Mbak Nonik njoged yuk! " Panjaluke bocah-bocah pada kemruwek rame. Oalah Nonok ya Nonik aku isin dewe pikiranku elek banget marang awakmu, weruh dawane lomanmu. 2732026puri

Sabtu, 13 Desember 2025

Lenggah

 Dening Niken Haidar

Nduk lenggah kene

Ana pitutur kang kudu di resepi

Nduk enggala lenggah kene

Aja pijer nanggis wae

Kae lho sawangen rembulanne awe-awe

Pratandha aja turu sore

Ana usada kanggo crita urip ing tembe mburine

Dadia wanita utama

Mersudi matang nusa lan bangsa

Andhap asor matang sapada-sapada

Sumarah takdir Kang Kuasa

Memuji syukur Rahmate Gusti kang Murbeng Dumadi 

yogyakarta 131225


Rabu, 26 November 2025

BAYANGAN DI TENGAH MALAM

 


Karya Niken Haidar

Dunia mungkin sudah terbalik bagiku. Siang bagai malam, malam bagai siang. Hingga banyak teman  memberiku julukan kalong(kelelawar), karena tiap malam jarang tidur sore seringnya begadang. Sebenarnya bukan niat untuk seperti itu. Mungkin kebiasaan hidup hanya di temani oleh Ragil yang ditinggal kakaknya menuntut ilmu di luar kota.

Dari balik jendela kaca yang bertirai tipis pemandangan luar nan gulita sebenarnya membuat bulu kuduk merinding. Demi editing naskah yang belum selesai, kucoba menahan rasa tak ingin menatap keluar. Musik gending jawa yang menemani malam ini, entah sudah berapa kali terputar.

Dentang jam dinding menyadarkan tengah malam nan senyap. Mata sudah sangat terasa lelah. Obat mata tetesnya sudah tak mampu menyembuhkannya. Laktop segera kumatikan. Beberes kepulau kapuk. Aku buka dulu pintu rumah sekedar menghirup udara segarnya malam. Melepaskan penatnya seluruh tubuh. Tetiba dari halaman sebelah kanan berkelebat bayangan putih terbang melintas. Mata terasa lepas. Berdiri mematung. Jantung berhenti berdetak. Tak terasa bulu kuduk berdiri. Belum lepas rasa kaget. Bayangan putih dari gang sebelah kanan rumah semakin banyak yang berjalan. Keringat dingin meluncur tiada terasa. Semakin dekat, bayangan putih banyak semakin mendekat. “Mangga Mbak, kok belum tidur ?”  sapa Mbok Rah yang pulang sholat malam di masjid dengan warga.

Joglo26082021

GADIS DI UJUNG SENJA

  Karya Niken Haidar Tak ingin kubuka lagi lembar lara yang telah menoreh sembilu dalam jiwa. Bukannya tiada rela. Melepasnya dalam rengkuh ...